maker gif

Jumat, 13 Juli 2012

Kebudayaan Cirebon & Indramayu





Balai Kota Cirebon

Letaknya yang secara geokultur berada di perlintasan dua kebudayaan besar membuat masyarakat di Cirebon, Indramayu, dan (sebagian) Majalengka (Ciayumaja) memiliki dua bahasa ibu. Perjalanan sejarahnya yang panjang kemudian membentuk peta kebudayaan yang mencerminkan adanya tarik-menarik pengaruh di antara dua kebudayaan besar tadi.
Penggunaan Basa Jawa Cerbon/Dermayon
Sunda Lelea & Parean
Masyarakat dwibahasa di Majalengka, terdapat di Majalengka bagian utara berbatasan dengan Indramayu seperti Jatitujuh dan sekitarnya. Sementara masyarakat berdwibahasa di Indramayu, terdapat di wilayah barat (Haurgeulis dan sekitarnya) yang berbatasan dengan Subang, serta Bangodua dan sekitarnya yang berbatasan dengan Majalengka.
Sumber: Pikiran Rakyat,



Yang dimaksud dua kebudayaan besar itu ialah Sunda di sebelah barat dan selatan, serta Jawa di sebelah timur dan utara. Pengaruh Sunda, dalam sejarahnya lebih bersifat politis karena Cirebon (Ciayumaja) dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan (geopolitik) kerajaan-kerajaan Buddha-Hindu Kuno seperti Galuh, Pajajaran, dan Sumedang Larang.
Sementara pengaruh Jawa, lebih bersifat kebudayaan (geokultur) melalui interaksi sosial yang terbentuk karena letak geografis pesisir pantura yang strategis sebagai sentra perdagangan. Masuknya Islam pada abad ke-15 sampai ke-16, di antaranya lewat syiar Islam Sunan Gunung Djati yang menggunakan bahasa Jawa, seolah makin mempertegas pengaruh Jawa secara kebudayaan di wilayah tersebut.
Tarik-menarik di antara dua kebudayaan besar tadi, dalam perjalanannya, kemudian menghasilkan suatu kebudayaan tersendiri, yakni apa yang sampai sekarang disebut dengan kebudayaan Cirebon. Dari sisi kebahasaan, masyarakat yang berdiam di Ciayumaja, sampai sekarang lalu mengenal dua bahasa ibu (dwibahasa), yakni Sunda dan Jawa.
Dari sisi kebahasaan (bahasa ibu) tadi, terbentuk pula peta dua bahasa yang bila merunut lewat kronologi sejarah atau proses terbentuknya konstruksi sosiologis dan antropologis masyarakatnya, menggambarkan intensitas pengaruh dari dua kebudayaan besar tadi (Sunda dan Jawa). Dalam konteks kewilayahan secara administratif kenegaraan masa sekarang, di antara lima daerah, yakni Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan (Ciayumajakuning), hanya masyarakat Kuningan yang bahasa ibunya sama dengan daerah Pasundan umumnya, yakni bahasa Sunda. Empat daerah lainnya, yakni Ciayumaja, mengenal dua bahasa ibu, Sunda dan Jawa.
Akibat tarik-menarik pengaruh tadi, terbentuk entitas kebudayaan tersendiri yang disebut kebudayaan Cirebon. Dari segi bahasa, juga kemudian membentuk bahasa tersendiri, yakni yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Sunda Cirebon atau juga Jawa Cirebon.
Kata “Cirebon” menunjukkan bahasa Sunda yang dipakai masyarakat Ciayumaja, terdapat kekhasan, pun demikian dengan bahasa Jawa. Ada perbedaan-perbedaan dengan Sunda atau Jawa mainstream, terutama pada dialek (irama bahasa) dan idiolek (ragam bahasa).
Perbedaan yang terasa itu pada dialek dan idiolek. Sunda yang digunakan wong Cerbon, beda dengan Sunda mainstream. Juga dengan bahasa Jawanya. Dari fenomena itu muncul “peng-aku-an” bahwa Cirebon ya Cirebon, bukan Sunda maupun Jawa.
Pada fenomena itu, terdapat pula sisi keanehan, yakni bahwa bahasa Sunda dan Jawa yang digunakan masyarakat di Ciayumaja, terdapat kosakata “Sunda Buhun” dan “Jawa Kuno” yang di masyarakat Pasundan atau Jawa sudah tidak lagi digunakan.
Contohnya seperti masyarakat Kecamatan Lelea di Indramayu yang berbahasa Sunda (atau disebut Sunda Lelea). Untuk menyebut kata “istriku”, bukan pamajikan atau pamajikan urang, tetapi panotog aing. Menurut Nurochman Sudibyo, budayawan setempat, panotog itu kosakata Sunda Buhun yang oleh masyarakat Pasundan sendiri sudah tidak lagi digunakan atau hilang.
Untuk bahasa Jawa, misalnya kata bobat (bohong), masyarakat Jawa (di Jateng dan Jatim) sudah sama sekali tidak mengenal. Untuk menyebut “bohong”, rata-rata orang Jawa menyebut dengan lombo atau nglombo atau ngapusi.
Kata bobat ini merupakan bahasa Jawa kuno yang oleh rata-rata masyarakat Jawa sendiri sudah tidak digunakan. Padahal, di balik kata bobat ada peristiwa sejarah yang sangat dramatis dan menimbulkan trauma bagi masyarakat Sunda umumnya, yakni Perang Bubat, (bubat berasal dari kata bobat) atau perang bohong-bohongan yang terjadi ketika sepasukan tentara Majapahit, atas perintah Patih Gajah Mada, menyerang rombongan Putri Padjajaran Diah Pitaloka (diyakini di daerah Majalengka) sekadar untuk menggagalkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan putri Kerajaan Sunda itu.
“Bahwa ada kosakata-kosakata kuno yang masih bertahan ini sama dengan fenomena Jawa di Suriname. Masyarakat Jawa di Suriname itu lebih Jawa daripada masyarakat Jawa sendiri. Bahasa Jawa Suriname lebih klasik dibandingkan dengan Jawa yang ada di Pulau Jawa,” tutur Nurochman.
Untuk Indramayu, ada dua kantong (enclave) masyarakat Sunda yang unik yang masih mempertahankan bahasa ibu Sunda di tengah-tengah masyarakat umumnya yang berbahasa Jawa (Jawa Dermayon), yakni di Desa Lelea (Kecamatan Lelea) dan masyarakat nelayan di Desa Parean (Kecamatan Kandanghaur). Orang Indramayu menyebutnya Sunda Lelea dan Sunda Parean, bahasa Sunda yang digunakan masyarakat dua desa itu hampir sama, dan berbeda dengan Sunda mainstream.
“Masyarakat Sunda Lelea dan Parean sebagai fakta dari rentetan sejarah pengaruh Kerajaan Sumedang Larang di Indramayu. Lucunya, bahasa Sunda di dua desa itu tidak mengenal tingkatan. Dalam terminologi sekarang cenderung disebut Sunda kasar,” tutur Nurochman yang penyair itu.
Ini berbeda dengan masyarakat yang berhasa Jawa. Sama dengan Jawa umumnya, mengenal tingkatan bahasa antara ngoko, kromo, dan kromo inggil. Bedanya di Ciayumaja hanya mengenal dua tingkatan, yakni ngoko (Jawa kasar) dan kromo (Jawa halus).
Di antara masyarakat berbahasa ibu Jawa di Ciayumaja juga terdapat beragam perbedaan dialek dan idiolek. Misalnya masyarakat Cirebon barat (Plered dan sekitarnya), utara (Suranenggala, Kapetakan) sampai Krangkeng dan sebagian Karangampel (Indramayu), dialek dan idioleknya hampir sama, yang menonjol pada penggunaan huruf “O”, misalnya kata “tentaro” untuk “tentara“, “siro” untuk “sira” (engkau, kamu), ini berbeda dengan masyarakat Cirebon kota dan Indramayu pada umumnya yang huruf “A” tetap dibaca “A” (tidak “O”). Rata-rata wong Dermayu menyebut “aku” dengan kata reang, sedang wong Cerbon isun.
Bahasa Jawa di Indramayu (Jawa Dermayu) juga terpecah dalam dialek-dialek dan idiolek yang lebih sempit lagi. Meski secara umum sama, tapi tetap dijumpai perbedaan misalnya bahasa Jawa Dermayu masyarakat Desa Tugu (Kecamatan Sliyeg) berbeda dengan Singaraja (Kecamatan Indramayu), juga berbeda dengan Jambak (Kecamatan Cikedung).
Jejak-jejak bahasa yang menunjukkan intensitas pengaruh (hegemoni) budaya Jawa dan Sunda juga dapat terlihat jelas. Pengaruh Jawa sangat terasa mulai di Cirebon utara dari Suranenggala terus sampai ke sebagian besar wilayah Indramayu, ditunjukkan bahwa masyarakat di wilayah itu sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda.
Berbeda dengan masyarakat sebagian besar Cirebon yang berdwibahasa, dari mulai Cirebon timur (Cileduk dan sekitarnya), Cirebon selatan (Sumber dan sekitarnya), Kota Cirebon hingga barat (Plered dan sekitarnya). Selain bisa berbahasa ibu Jawa, masyarakat Cirebon tadi juga bisa berbahasa Sunda, atau sebaliknya selain berbahasa ibu Sunda juga bisa berbahasa Jawa.
 Dari fenomena itu muncul “peng-aku-an” bahwa Cirebon ya Cirebon, bukan Sunda maupun Jawa.
Pada fenomena itu, terdapat pula sisi keanehan, yakni bahwa bahasa Sunda dan Jawa yang digunakan masyarakat di Ciayumaja, terdapat kosakata “Sunda Buhun” dan “Jawa Kuno” yang di masyarakat Pasundan atau Jawa sudah tidak lagi digunakan.
Contohnya seperti masyarakat Kecamatan Lelea di Indramayu yang berbahasa Sunda (atau disebut Sunda Lelea). Untuk menyebut kata “istriku”, bukan pamajikan atau pamajikan urang, tetapi panotog aing. Menurut Nurochman Sudibyo, budayawan setempat, panotog itu kosakata Sunda Buhun yang oleh masyarakat Pasundan sendiri sudah tidak lagi digunakan atau hilang.
Untuk bahasa Jawa, misalnya kata bobat (bohong), masyarakat Jawa (di Jateng dan Jatim) sudah sama sekali tidak mengenal. Untuk menyebut “bohong”, rata-rata orang Jawa menyebut dengan lombo atau nglombo atau ngapusi.
Kata bobat ini merupakan bahasa Jawa kuno yang oleh rata-rata masyarakat Jawa sendiri sudah tidak digunakan. Padahal, di balik kata bobat ada peristiwa sejarah yang sangat dramatis dan menimbulkan trauma bagi masyarakat Sunda umumnya, yakni Perang Bubat, (bubat berasal dari kata bobat) atau perang bohong-bohongan yang terjadi ketika sepasukan tentara Majapahit, atas perintah Patih Gajah Mada, menyerang rombongan Putri Padjajaran Diah Pitaloka (diyakini di daerah Majalengka) sekadar untuk menggagalkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan putri Kerajaan Sunda itu.
“Bahwa ada kosakata-kosakata kuno yang masih bertahan ini sama dengan fenomena Jawa di Suriname. Masyarakat Jawa di Suriname itu lebih Jawa daripada masyarakat Jawa sendiri. Bahasa Jawa Suriname lebih klasik dibandingkan dengan Jawa yang ada di Pulau Jawa,” tutur Nurochman.
Penggunaan Basa Jawa Cerbon/Dermayon

Sunda Lelea & Parean

Untuk Indramayu, ada dua kantong (enclave) masyarakat Sunda yang unik yang masih mempertahankan bahasa ibu Sunda di tengah-tengah masyarakat umumnya yang berbahasa Jawa (Jawa Dermayon), yakni di Desa Lelea (Kecamatan Lelea) dan masyarakat nelayan di Desa Parean (Kecamatan Kandanghaur). Orang Indramayu menyebutnya Sunda Lelea dan Sunda Parean, bahasa Sunda yang digunakan masyarakat dua desa itu hampir sama, dan berbeda dengan Sunda mainstream.
“Masyarakat Sunda Lelea dan Parean sebagai fakta dari rentetan sejarah pengaruh Kerajaan Sumedang Larang di Indramayu. Lucunya, bahasa Sunda di dua desa itu tidak mengenal tingkatan. Dalam terminologi sekarang cenderung disebut Sunda kasar,” tutur Nurochman yang penyair itu.
Ini berbeda dengan masyarakat yang berhasa Jawa. Sama dengan Jawa umumnya, mengenal tingkatan bahasa antara ngoko, kromo, dan kromo inggil. Bedanya di Ciayumaja hanya mengenal dua tingkatan, yakni ngoko (Jawa kasar) dan kromo (Jawa halus).
Di antara masyarakat berbahasa ibu Jawa di Ciayumaja juga terdapat beragam perbedaan dialek dan idiolek. Misalnya masyarakat Cirebon barat (Plered dan sekitarnya), utara (Suranenggala, Kapetakan) sampai Krangkeng dan sebagian Karangampel (Indramayu), dialek dan idioleknya hampir sama, yang menonjol pada penggunaan huruf “O”, misalnya kata “tentaro” untuk “tentara“, “siro” untuk “sira” (engkau, kamu), ini berbeda dengan masyarakat Cirebon kota dan Indramayu pada umumnya yang huruf “A” tetap dibaca “A” (tidak “O”). Rata-rata wong Dermayu menyebut “aku” dengan kata reang, sedang wong Cerbon isun.
Bahasa Jawa di Indramayu (Jawa Dermayu) juga terpecah dalam dialek-dialek dan idiolek yang lebih sempit lagi. Meski secara umum sama, tapi tetap dijumpai perbedaan misalnya bahasa Jawa Dermayu masyarakat Desa Tugu (Kecamatan Sliyeg) berbeda dengan Singaraja (Kecamatan Indramayu), juga berbeda dengan Jambak (Kecamatan Cikedung).
Jejak-jejak bahasa yang menunjukkan intensitas pengaruh (hegemoni) budaya Jawa dan Sunda juga dapat terlihat jelas. Pengaruh Jawa sangat terasa mulai di Cirebon utara dari Suranenggala terus sampai ke sebagian besar wilayah Indramayu, ditunjukkan bahwa masyarakat di wilayah itu sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda.
Berbeda dengan masyarakat sebagian besar Cirebon yang berdwibahasa, dari mulai Cirebon timur (Cileduk dan sekitarnya), Cirebon selatan (Sumber dan sekitarnya), Kota Cirebon hingga barat (Plered dan sekitarnya). Selain bisa berbahasa ibu Jawa, masyarakat Cirebon tadi juga bisa berbahasa Sunda, atau sebaliknya selain berbahasa ibu Sunda juga bisa berbahasa Jawa.
Masyarakat dwibahasa di Majalengka, terdapat di Majalengka bagian utara berbatasan dengan Indramayu seperti Jatitujuh dan sekitarnya. Sementara masyarakat berdwibahasa di Indramayu, terdapat di wilayah barat (Haurgeulis dan sekitarnya) yang berbatasan dengan Subang, serta Bangodua dan sekitarnya yang berbatasan dengan Majalengka.

Sumber: Pikiran Rakyat,



Pendopo Majalengka

Kabupaten Majalengka, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat,Indonesia. Ibukotanya adalah Majalengka. Kabupaten ini berbatasan denganKabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya di selatan, sertaKabupaten Sumedang di barat.

Kabupaten Majalengka terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Majalengka. Kantor Bupati terletak di Pendopo, selatan dari Alun-alun Majalengka berdekatan dengan Masjid Agung Al Imam.
Latar Belakang Masyarakat Majalengka 
Masyarakat Majalengka umumnya berasal dari etnis Sunda secara dominan. Karena tata kehidupannya menunjukan kekentalan dengan budaya Sunda, seperti penggunaan bahasa Sunda. Namun untuk wilayah Pekaleran atau Majalengka bagian utara meliputi wilayah kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan Sumberjaya mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Cirebon dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Cirebon & Dermayon

Kamis, 12 Juli 2012

Karajaan Sunda


Prabu Siliwangi


Di handap ieu runtuyan raja-raja nu kungsi mingpin Karajaan Sunda numutkeun naskah Pangeran Wangsakerta (korban kawasa dina Masehi):
1. Tarusbawa (minantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (minantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (minantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (minantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adi beuteung Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
1.Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
2.Rakeyan Jayagiri (minantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
3.Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
4.Limbur Kancana (putra Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
5.Munding Ganawirya (964 - 973)
6.Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
7.Brajawisésa (989 - 1012)
8.Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
9.Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
10.Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
11.Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
12.Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
13.Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
14.Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
15.Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
16.Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
17.Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
18.Prabu Linggadéwata (1311-1333)
19.Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
20.Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
21.Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (nu perlaya dina Perang Bubat, 1350-1357)
22.Prabu Bunisora ​​(1357-1371)
23.Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
24.Prabu Susuktunggal (1475-1482)
25.Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
26.Prabu Surawisésa (1521-1535)
27.Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
28.Prabu Sakti (1543-1551)
29.Prabu Nilakéndra (1551-1567)
30.Prabu Ragamulya atawa Prabu Suryakancana (1567-1579)

SEJARAH KOTA MAJALENGKA



Pada zaman kerajaan Hindu sampai dengan abad XV di wilayah Kabupaten Majalengka terbagi menjadi 3 kerajaan : (1) Kerajaan Talaga dipegang oleh Sunan Corenda atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Parung (2) Kerajaan Rajagaluh dipegang oleh Prabu Cakraningrat (3) Kerajaan Sindangkasih, rajanya adalah seorang puteri bernama Nyi Rambutkasih. Terdapat banyak cerita rakyat tentang ke-3 kerajaan tersebut yang sampai dengan saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Selain cerita rakyat yang masih diyakini juga terdapat situs, makam-makam dan benda-benda purbakala, yang kesemuanya itu selain menjadi kekayaan daerah juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah.Kerajaan Sindangkasih (a) rajanya seorang putri yang memiliki paras nan cantik dan molek bemama Nyi Rambutkasih adalah seorang yang beragama Hindu fanatic (b) Kerajaan ini terletak secara geografis berada di Majalengka (c) Nama Sindangkasih diambil dari Mandala Sindangkasih yang semula tempat merupakan tempat kedudukan Ki Gedeng Sindangkasih yang dijabat oleh puteranya yang bernama Ki Ageng Surawijaya (d) Semula nama tempat ini terdapat di wilayah Cirebon yang kemudian dibawa oleh penguasa ;yang dise.but Ki Gedeng Sindangkasih yang lama berkedudukan di Sumedang Larang yaitu Majalengka sekarang (menurut De Pacto Gelu dan Talaga) (e) Nyi Gedeng Sindangkasih atau disebut juga Nyi Ambetkasih dan lebih dikenal lagi adalah Nyi Rambutkasih adalah seorang ratu yang cantik molek, memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, dikagumi serta sangat dihormati oleh rakyatnya adalah istri Prabu Siliwangi. la adalah orang yang dipercaya oleh Prabu Siliwangi untuk memimpin rombongan yang bermaksud pindah ke Pakuwan Pajajaran (Bogor sekarang), kemudian ia menjadi penguasa di Sindangkasih sebagai ibukota Sumedang Larang.Penguasa di Sindangkasih sebagaimana disebutkan di atas adalah Nyi Rambutkasih. Sejak sekian lama Nyi Rambutkasih mencium akan datangnya Pangeran Muhamad disertai ayahnya Pangeran Panjunan di Sindangkasih dalam rangka mengadakan kegiatan penyebarluasan ajaran agama Islam dan kegiatan ini disambut baik oleh, masyarakat setempat. Di Padepokan Sindangkasih, Rambutkasih tengah mengadakan pertemuan dengan semua perwira tinggi kerajaan sehubungan dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Pangeran Muhamad. Ketika rapat khusus itu sedang berlangsung datanglah Pangeran Muhamad bersama rombongan dengan maksud ingin ketemu dengan Nyi Rambutkasih selaku ratu di Kerajaan Sindangkasih. Dengan ucapan Alhamdulillahirrobiralamin, yang maksudnya Pangeran Muhamad merasa bersyukur serta bahagia dapat bertemu dengan seorang putri cantrk dan sebagai penguasa di Sumedang Larang, tetapi dengan tidak diduga dalam sekejap Nyi Rambutkasih menghilang.Bersamaan dengan itu terlontarlah ucapan Pangeran Muhamad : “Madya Langka” yang artinya putri cantik telah hilang (tidak ada), sehingga dari kata-kata itu kemudian orang menyebutnya Majalengka. Sejak itulah kemudian Pangeran Muhamad yang didampingi ayahnya Pangeran Panjunan memerintah di Sumedang Larang/Sindangkasih, selanjutnya pada tanggal 10 Muharam 910 H yang bertepatan dengan tanggal 7 Juni 1490 M, sesuai dengan perintah Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Cirebon menetapkan Pangeran Muhamad.Pada masa tuanya Pangeran Muhamad menetap di lereng gunung yang berada di sebelah selatan Majalengka sampai akhir hayatnya gunung tersebut kini dikenal dengan sebutan Gunung Margatapa. Adapun Siti Armilah istri Pangeran Muhamad dimakamkan di belakang pendopo (kantor Pemda) Kabupaten Majalengka, yang dikenal dengan sebutan Nyi Gedeng Badori. Sumber bacaan : Sunan Gunung Jati : 7 Juni 1490 M, Sindang Kasih Berubah Menjadi Majalengka

Solusi Kesehatan Dengan Metoda Pengolahan tenaga Dalam


P
ENDAHULUAN

Pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat dan kemajuan teknologiyang sangat pesatsaat akan menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi kehidupan manusia. Dampak yang positif manusia dengan mudah memperoleh kebutuhan materi yang diperlukan guna memenuhi proses kehidupan jangka pendek dan jangka panjang yang dihadapi,  sedangkan dampak disisi negatif munculnya penyakit-penyakit baru yang sebelumnya belum pernah ada.Tentunya akabibat dampak negatif ini manusia mendapat kesusahan untuk solusi hal ini tentu banyak tindakan-tindakan manusia guna mendapatkan kesehatan tubuh yang lebih praktis disini tentunya dengan olah raga ada juga dengan mengkomsumsi jamu-jamu atau nutrisi kesehatan namun tidak sampai disini penyakit terus aja datang karena efek samping dari pada konsumsi-konsumsi yang di makan. Dari temuan-temuan tadi ada teknik yang lebih baik daripa hal tadi untuk solusi yang efesien sengaja penulis mempublikasikan demi kesehatan manusia yaitu teknik dasar pengolahan tanaga dalam yang di dalamnya terdiri dari tiga metode pengolahan diantaranya, Metode pengolaha Napas, Metode pengolahan Kosentrasi dan Metode pengolahan Jurus.


Pengolahan Tenaga Dalam
Pada hakekatnya berlatih tenaga dalam salah satu bentuk perwujudan rasa syukur kepada Allah dengan memanfaatkan Karunia-Nya yang berupa bahan baku tenaga di dalam tubuh manusia yang di olah memlalui serangkaian mekanisme pernapasan yang di sertai gerakan jurus dan dzikir sebagai kosentrasi. Untuk pelatihan pernapasan ini menggunakan sistem pernapasan perut dan mekanisme  penekanan napas 2 cm di bawah pusar yang akan mengaktifkan pusat-pusat tenaga yang ada di dalam tubuh.
Dari palatihan pengolahan tenaga dalam ini berusaha menyeimbangkan kesegaran jasmani dan rohani termasuk didalamnya kesegaran mental, karena adanya dzikir yang akan memupuk sikap kepasrahan. Pada latihan pengolahan tenaga dlam ini selain membentuk medan tenaga yang mengelilingi tubuh yang dapat berfungsi sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif yang dapat saling mengisi dengan dunia kedokteran dan dunia pengobatan lainnya. Pengolaha tenaga dalam ini dapat dipelajari dan di latih oleh semua orang yang memiliki kemauan, bermitivasi kuat, serta memiliki keyakinan diri karena untuk melakukan latihan ini di butuhkan kesungguhan dan kesabaran.

Pengertian Tenaga Dalam

a. Tenaga Dalam di peroleh  dapat diperoleh dari mekanisme pengolahan bahan baku yaitu tenga yang ada di dalam tubuh manusia melalui latihan pernapasan yang disertai dengan gerakan jurus dan dzikir sebagai kosentrasi.
b. Pendekatan dalam melakukan pengolahan terdiri dari 2 sisi diataranya :
1. Hukum ALam : Latihan Pernapasan dan Latihan Jurus
2. Keilmuan : Dzikir
c. Tenaga Dalam  memiliki sifat defensif, memmbentuk medan tenaga (AURA) yang mengelilingi tubuh sebagai pelindung terhadap serangan yang berbentuk gelombang getaran tenaga. Sedangkan AURA merupakan singkatan kata  dari bahasa asing yaitu :
  A "Attraction"   adalah daya tarik
   U "Unison"       adalah keharmonisan
   R "Repulsion"   adalah daya tangkal
   A "Activation"   adalah daya aktivasi

d. Tenaga Dalam merupakan satu bentuk pengobatan alternatif, memberi andil di bidang kesehatan, saling mengisi dengan dunia kedokteran dan dunia pengobatan alternatif lainya.


Tenaga dalam dapat dipelajari oleh semua orang yang memiliki kemauan dan motivasi yang kuat serta keyakinan diri dan sudah mencapai usia minimal 16 tahun kemudian bagi mereka yang sakit yang memiliki katagori berat harus medapat bimbingan secara khusus.
Tempat pelatihan diruangan yang bervantilasi cukup, untuk pertukaran udara juga bisa di udara terbuka yang beralaskan pasir, tanah, rumput atau bahan yang merupakan penghantar medan magnit bumi.

Funfsi Tenaga dalam

1. Hakekatnya tenaga dalam adalah perwujudan rasa syukur dalam memamnfaatkan karunia Allah SWT. yang didiberikan pada manusia berupa tenaga sebagai bahan baku untuk kebaikan baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dalam bentuk pengamalan ilmu.
2. Untuk menyeimbangkan kesegaran jasmani dan rohani termasuk didalamnya kesegaran mental, karena adanya dzikir yang memupuk sikap kepasrahan kepada Allah SWT.
3. Mempunyai kemampuan dalam bentuk bela diri yang defensif yang sifatnya memberikan reaksi apabila ada aksi yang datang berupa gelombang atau getaran tenaga, ini dapat timbul dari sikap emosi, niat jahat kemudia  orang yang memiliki tenaga dalam dengan menggunakan tenaga dalamnya.
4 Untuk kesegaran dan kesehatan tubuh
5.Karena ritme pernapasan yang lebih lama atau panjang dari pernapasan normal akan menghasilkan gelombang otak yang berfrekwensi 7 - 14 Hertz atau di kenal dengan gelombang alpa. Adanya gelombang ini ternyata sangan menguntungkan alam pikir dan tubuh manusia sehungga mengantarkan pembaewaan pemulihan kesehatan.

Membangkitkan Tenaga dalam

Mengaktifkan pusat-pusat tenaga dan merangkaikan satu dengan yang lainnya melalui visualisasi gerakan jurus yang dilakukan dalam keadaan menekan napas di bawah pusar atau mekanisme napas tarik dan napas tolak sesuai peragaan jurusnya sehingga menimbulkan medan tenaga yang mengelilingi tubuh yang intensitas dan ketebalannya tergantung kepada kualitas dan kuantitas dari latihan.
Penyelarasan pusat-pusat tenaga aktif yang di sesuaikan dengan frekuensi antara energi dalam tubuh dengan energi alam semesta yang menghasilkan energi pengendalian tenaga.
Pusat-pusat tenaga utama berupa di sepanjang tulang belulang dari pangkal tulang ekor sampai ke ubun-ubun di kepala sedangkan pusat-pusat tenaga madya dan kecil terletak di ketiak, pinggang depan bahu, telapak tangan dan telapak kaki.
Untuk memulai latihan tentunya kita memasrahkan diri kepada Allah SWT dengan membacakan dulu Basmallah kemudian pemanasan tubuh dan peregangan otot supaya tidak mendapatkan hal yang tidak diharapkan. 

Generator dan Kelenjar di Tubuh Manusia

Generator tubuh adalah suatu sistem energi yang mengatur dan mengontrol aliran energi ke setiap bagian fungsi organ tubuh serta berhubungan dengan kelenjar endokrin tertentu. sistem energi ini lebih halus dari sistem syaraf tubuh dan secara fisik tidak dapat dilihat dengan mata biasa, hanya dapat dirasakan jika seseorang mengembangkan teknik kepekaan. generator tubuh mengatur kerja tubuh dan pikiran melalui kelenjar, dan organ dengan merangsang kelenjAR untuk memproduksi hormon-hormon serta organ agar berfungsi maksimal.

Salah satu fungsi antara kelenjar dan generator 

Hubungan generator permium dan seks dengan kelenjar seks/reproduksi. Daerah ini mempengaruhi dan mengontrol energi pada sistem otot, Jantung, Otak, organ Seks, Kandungan Kencing dan Ureter, Tungkai, Tengorokan dan Kepala. Bila terjadi gangguan pada daerah ini mengakibatkan penyakit Rematik, Otak, Leukimia, Sembelit, Impotensi dan Gangguan Pertumbuhan.

Masih banyak lagi fungsi kelenjar dan generator lainnya selain yang di tulis diatas berhubung terlalu panjang dan lebar penulis hanya menyapaikan salah satu contoh di atas saja.

Mudah-mudaha gambaran tentang pengolaha tenaga dalam diatas dapat menbahah wawasan untuk mencari solusi menjaga kesehatan tubuh yang selama ini penyakit makin banyak menjakit pada setiap orang, semoga niat baik penulis dengan diterbitkan tulisan ini memberikan manfaat kepada pembaca.
Terima kasih kepada Dewan Redaksi yang telah membantu hingga terbitnya tulisan ini, Wabillahi Taupik Wal Hidayah Wassalamu'alaikum Wr,Wb.
Majalengka, April 2011
Penulis

Hutan Lindung Patilasan Prabu Siliwangi
Hutan Lindung Patilasan Prabu Siliwangi berada di Kelurahan Pajajar, Kecamatan Rajagaluh dengan luas mencapai +3 Ha yang dibangun pada tahun 2000/2001. Jarak dari pusat Kota Majalengka menuju lokasi objek wisata  +21km. Patilasan Prabu Siliwangi pada zaman dahulu merupakan suatu tempat peristirahatan Prabu Siliwangi dan konon katanya menurut masyarakat sekitar merupakan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi. Dalam kawasan wisata ini terdapat dua talaga (Talaga Emas dan Talaga Pancuran) yang dianggap airnya suci oleh masyarakat sekitar dan pengunjung, sehingga sebelum melakukan ritual di patilasan tersebut pengunjung diharuskan mandi bersih di dua talaga tersebut. Selain talaga dan patilasan Prabu Siliwangi, dikawasan wisata ini juga terdapat pohon bambu peninggalan soekarno yang dari tahun ke tahun berjumlah 5 buah (tumbuh 1, mati 1) serta adanya kolam pemandian bagi pengunjung. Selain keindahan alam, pengunjung dapat menyaksikan kera-kera liar di sekitar kawasan ini dan berbagai jenis ikan langka yang terdapat di balong Cikahuripan. Selain itu di kawasan ini terdapat arena outbond (camping), kolam renang dan situ cipadung yang berbatasan langsung dengan Desa Indrakila Kecamatan Sindang.